Responsive image

Kami bukan mitos masa lalu, reruntuhan dalam hutan, atau kebun binatang. Kami adalah manusia dan kami ingin dihormati, bukan menjadi korban intoleransi dan rasisme.

Rigoberta Menchu

Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Silahkan gunakan kebebasan anda untuk mempromosikan kebebasan kami.

Aung San Suu Kyi

Pada dasarnya kita tidak bisa memiliki kedamaian, atau kondisi yang menumbuhkan kedamaian tersebut, kecuali jika kita mengakui hak-hak asassi tiap individu, kepentingan mereka, martabat mereka, dan setuju bahwa itu adalah hal dasar yang harus diterima di seluruh dunia.

Eleanor Roosevelt

Setiap pemikiran, setiap kata, dan setiap tindakan yang menambah hal positif dan sehat adalah bentuk kontribusi untuk perdamaian. Seluruh dan setiap orang dapat member kontribusinya. Mari kita bergandengan tangan untuk menciptakan perdamaian dunia dimana kita dapat tidur dalam kedamaian dan bangun dalam kebahagiaan.

Aung San Suu Kyi

Tolak Perampasan Tanah dan Hentikan Kekerasan Terhadap Petani


Selasa, 28 Oktober 2014 - 17:23:21 WIB
Diposting oleh : Administrator .:. Kat: Pernyataan Sikap .:. Hits: 18274 kali

39IMG_5795.jpg

FRONT PERJUANGAN RAKYAT (FPR) SULAWESI SELATAN

Hingga saat ini, kekerasan terhadap Kaum tani, pemuda, mahasiswa, kaum miskin kota, dan kelompok miskin lainnya setiap tahun justru semakin meningkat. Kekerasan itu kembali terulang pada masyarakat yang tergabung dalam Serikat Tani Polongbangkeng (STP) Takalar yang mencoba mempertahankan lahan pertanian yang menjadi sumber kehidupannya.

Sesuai dengan perjanjian yang disampaikan oleh pihak perusahaan, tahun 1981-1982, yang mana kesepakatan kontrak akan berjalan selama 25 tahun, yakni hingga tahun 2008, dan kemudian akan dikembalikan kepada masyarakat setelah kontrak tersebut selesai. Namun, pada tahun 2008, setelah 25 tahun PTPN mengelola lahan, yang seharusnya lahan tersebut dikembalikan pada warga, pihak perusahaan malah mempertahankan penguasaan lahan walaupan masyakarat telah mempertanyakan dan meminta kembali haknya atas lahan tersebut. Akibatnya, masyarakat harus berjuang keras untuk mengambil kembali lahan tersebut.

Perjuangan warga sejak tahun 2009 hingga berhasil mengelola lahan dari tahun 2011 kerap mengalami tindakan kekerasan dan kriminalisasi. Rentetan kekerasan terhadap petani yang tergabung dalam STP Takalar tersebut terjadi lagi pada hari Senin, tanggal 27 oktober 2014, setelah sebelumnya terjadi pada tanggal 11 dan 14 Oktober 2014. Pihak Brimob, TNI, Satpol PP dan bahkan preman dikerahkan untuk merampas tanah yang dikuasai rakyat. Parahnya, aksi pengelolaan secara paksa tersebut malah dipimpin secara langsung oleh ketua DPRD Takalar, H. Jabir Bonto.

Atas tindakan kekerasan yang tiada hentinya kepada kaum tani di Takalar, maka Kami dari Front Perjuangan Rakyat (FPR) Sulawesi Selatan menuntut:

  1. Kapolda Sulawesi Selatan-Barat segera meninjau ulang kebijakan pengamanan oleh pasukan Brimob di PTPN XIV yang justru hanya menciptakan teror/intimidasi dan tindak kekerasan kepada warga.
  2. Kapolda segera menindak dan memecat anggota kepolisian yang melakukan pelanggaran kode etik pengamanan (atas nama Bripka Rahmat Santawi alias Opa dan beberapa anggota Brimob lainnya)
  3. Kembalikan tanah Rakyat
  4. Mendesak kepada BK DPRD untuk menindaklanjuti penyalahgunaan kewenganan yang dilakukan oleh H. Jabir Bonto sebagai ketua DPRD Kab. Takalar.
  5. Pangdam VII Wirabuana agar segera menarik keterlibatan pasukan TNI dari lokasi PTPN XIV

Makassar 28 Oktober 2014


LBH Makassar, AGRA Sul-Sel, Kontras Sulawesi, FMN, BEM FIS UNM, LAW UNHAS, Komunal, Fosis UMI, BEM Sastra UH, HIMPOSEP FE UNM, Cara Baca, AMPERA Sulsel,

Kronologi Peristiwa tanggal 11, 14 dan 27 Oktober 2014 dapat di unduh disini

 

Berita Terkait