Responsive image

Hak Gay (LGBTIQ) adalah hak asasi manusia.

Hillary Clinton

Pada dasarnya kita tidak bisa memiliki kedamaian, atau kondisi yang menumbuhkan kedamaian tersebut, kecuali jika kita mengakui hak-hak asassi tiap individu, kepentingan mereka, martabat mereka, dan setuju bahwa itu adalah hal dasar yang harus diterima di seluruh dunia.

Eleanor Roosevelt

Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Jika seseorang berpikir bahwa perdamaian dan cinta adalah hal klise yang harus telah ditinggalkan di tahun 60an, itu adalah masalah. Perdamaian dan Cinta adalah abadi.

Jhon Lennon

Membenarkan kekerasan, mengutip dari Kitab Suci, dan mengajarkan kebencian atas nama Tuhan.

Dream theater - in the Name of God

Tradisi Cap Go Meh dan Upaya Menjaga Ke-Bhinekaan


Minggu, 19 April 2015 - 15:44:02 WIB
Diposting oleh : Administrator .:. Kat: Kegiatan .:. Hits: 1338 kali

28Jappa

*kegiatan perayaan Cap Go Meh 2566 di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Maret 2015

Indonesia adalah sebuah Negara dengan identitas yang beragam. Keberagaman ini coba disatukan oleh satu semangat bersama yang diajukan oleh para pendiri bangsa ini, yaitu semangat Bhineka Tunggal Ika. Beragam budaya asli nusantara maupun budaya hasil percapuran dengan budaya luar adalah kekhasan Indonesia yang perlu dijaga. Harapannya, ini akan menjadi warisan untuk anak cucu kita kelak. Salah satu bentuk keberagaman budaya ini ialah tradisi Perayaan Cap go Meh di banyak kota, salah satunya di Makassar.

Cap Go Meh secara harfiah berarti melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Sejarah Cap Go Meh dimulai  sejak abad ke 17, ketika terjad imigrasi besar dari Tiongkok Selatan. Semasa dinasti Han, pada malam Cap Go Meh tersebut, raja sendiri khusus keluar istana untuk turut merayakan bersama dengan rakyatnya. Tradisi ini mulai ramai dilaksankan di Indonesia  sejak masa pemerintahan Soekarno, akan tetapi bencana politik 1965, oleh Presiden Soeharto, Cap Go Meh tidak lagi diizinkan karena dianggap sebagai bentuk kedekatan politinya dengan pemerintah Tiongkok saat itu.

Masyarakat Tionghoa kembali dapat merayakan hari raya Imlek dan Cap Go Meh pada era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid. Presiden Gusdur mencabut Inpres Nomor 14/1967 dan kemudian mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya).  Baru pada tahun 2002,  tahun baru Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003.

Jappa Jokka; Bergerak Menuju Masyarakat Toleran

Pada tanggal 8 Maret 2015, perayaan Cap Go Meh yang dipusatkan di Kawasan Pecinan Makassar menjadi pengalaman menarik bagi peserta Pelatihan KBB. Suasana meriah pada puncak perayaan Imlek Cap Go Meh berupa pertunjukkan barongsai, arak-arak patung Dewa- Dewi keliling kota, hingga jalan bersama dengan istilah Jappa-Jokka Cap Go Meh dengan warga Pecinan manjadikan sore itu tampak meriah dan berwarna.

Diantara kerumunan peserta Jappa-Jokka, berbaris pula komunitas-komunitas yang sebagian besar tergabung dalam Jalin-Harmoni yang terdiri dari berbagai organisasi non-pemerintah yaitu LAPAR Sulsel, Interfidei, OaseInti, Gusdurian Makassar, SP-AM, AMAN Sulsel, LBH Makasar, KontraS Sulawesi, juga dari komunitas korban seperti JAI, IJABI, ABI, dan lembaga mahasiswa PersatuanMahasiswa Islam Indonesia (PMII). Mereka membentangkan spanduk yang dibuat untuk menyambut kegiatan Perayaan Cap Go Meh 2015 yang bertuliskan"Selamat, Perayaan Cap Go Meh 2566, Menjalin Persaudaraan,  Merajut Perdamaian". Dengan berpakaian serba putih, mereka berjalan bersama para peserta lainnya menuju pusat kegaiatan perayaan Cap Go Meh.

Peristiwa ini merupakan hal baru bagi beberapa diantara mereka. Menjadi bagian dari perayaan kemeriahan upacara aliran kepercayaan adalah salah satu cara untuk mendekatkan para peserta pelatihan dengan satu sama lain. Selainitu, aktivitas semacam ini diyakini bisa menjadi pintu masuk bagi upaya toleransi yang harus dibina secara bersama-sama.

Nilai-nilai toleransi tentunya bisa dibangun dari berbagai metode, bahkan melalui kegiatan yang dibalut dengan agenda santai dan bersahaja seperti ini bisa menjadi forum untuk bisa berbagi. Jappa Jokka sendiri dalam bahasa Bugis-Makassar berarti “Jalan-Jalan” seolah hendak menyampaikan pesan bahwa kita bisa berjalan bersama demi sebuah situasi harmonis oleh siapa saja yang yakin dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ideal. []

 

berita kegiatan dapat dilihat di : http://seputarsulawesi.com/news-16881-jalin-kampanye-perdamain-di-cap-go-meh-.html

Berita Terkait