Responsive image

Jika seseorang berpikir bahwa perdamaian dan cinta adalah hal klise yang harus telah ditinggalkan di tahun 60an, itu adalah masalah. Perdamaian dan Cinta adalah abadi.

Jhon Lennon

Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Hak Gay (LGBTIQ) adalah hak asasi manusia.

Hillary Clinton

Tidak pernah orang-orang mengeluh tentang universalitas hak asasi manusia, juga tidak menganggap HAM sebagai pemaksaan dari Barat atau Utara. Namun, hal itu kerap dilakukan oleh para pemimpin mereka.

Kofi Annan

Silahkan gunakan kebebasan anda untuk mempromosikan kebebasan kami.

Aung San Suu Kyi

Agenda Nongkrong Bersama Jalin-Harmoni KBB, 14 April 2015


Minggu, 19 April 2015 - 15:54:15 WIB
Diposting oleh : Administrator .:. Kat: Kegiatan .:. Hits: 1188 kali

75Jalin

Rangkaian kekerasan atas nama  agama adalah salah satu muasal kegelisahan bagi kelangsungan demokratisasi dan sikap toleransi di Indonesia dewasa ini. Pasang surutnya upaya perlindungan terhadap hak-hak kelompok masyarakat minoritas yang rentan merupakan salah satu indicator pelaksanaan hak asasi manusia masih minim. Trend pengembangan nilai kemanusiaan secara global mendudukkan kebebasan beragama menjadi isu yang penting bagi Indonesia. Terlebih dengan meningkatnya kekerasan yang mengatas namakan agama beberapa tahun terakhir. Memudarnya peran tokoh agama, dan pemerintah serta masyarakat luas yang dinilai masih kurang menjadi salah satu penyebab terjadinya hal tersebut.

Kontras Sulawesi sebagai sebuah lembaga terus berupaya mendudukan dan mengadvokasi tindakan yang intoleran yang terjadi dan mengummpulankan data-data yang berkaitan dengan persoalan tersebut. Upaya ini sekaligus untuk menjelaskan posisi pluralitas, kebebasan beragamadan berkeyakinan untuk menciptakan masyarakat yang majemuk dan saling menghargai.

Kondisi inilah yang melandasi Kontras Sulawesi bersama  komunitas korban dan organisasi jaringan membentuk sebuah forum bersama yang dinamakan “Jalin Harmoni Kebebasan Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan/ Berkeyakinan (KBB)” untuk melaksanakan diskusi umum yang membicarakan isu kebebasan beragama, berkeyakinan dan beribadah. Dengan melibatkan organisasi-organisasi yang selama ini berjuang terkait perjuangan nilai-nilai HAM.

Rangkaian awal dari diskusi rutin ini dilaksanakan di kantor JAI Sulawesi Selatan pada tanggal 14 April 2015. Sekitar 25 peserta diskusi saling bertukar gagasan terkait situasi  HAM di Sulawesi Selatan saat ini secara umum dan juga terkait pentingnya melakukan advokasi litigasi ketika insiden kekerasan atas nama agama kembali terjadi. Selain itu, dalam forum diskusi ini juga digunakan untuk merumuskan satu agenda untuk merespon adanya draft RUU Perlindungan Umat Beragama versi Kementerian Agama.

Kontras Sulawesi menilai pentingnya melakukan advokasi litigasi, semisal melakukan pelaporan kasus kepihak kepolisian, saat insiden kekerasan atau tindakan intoleran lainnya kembali menimpa komunitas-komunitas korban. Pelaporan ini kemudian dapat digunakan sebagai alat advokasi,  juga sebagai alat ukur kinerja aparat keamanan dalam menjalankan tugasnya sebagai pelindungan dan pemenuhan hak-hak korban.

Bilamana tidak ada pelaporan tersebut,  pendamping dan komunitas korban tidak dapat menuntut lebih untuk pengamanan dan penyelesaiaan kasus. Lebih jauh,  komunitas korban tidak akan dapat menggunakan mekanisme lainnya seperti pengaduan lanjutan ke Kompolnas, Ombudsman RI dan KIP. Advokasi litigasi sangat penting untuk mengimbangi advokasi non-litigasi yang kerap lebih banyak dilakukan.

Dialog dan Penjagaan Nilai Toleransi

Kalau saja kita bisa membayangkan suatu situasi di mana ada kelompok yang dianggap sesat, tapi tidak dibarengi dengan tindak kekerasan,  maka masalahnya mungkin tidak akan menjadi demikian pelik seperti yang kita rasakan saat ini.  Penting untuk membangun sebuah jembatan untuk mentransformasikan pengetahuan terkait situasi dan gambaran yang utuh.  Pengetahuan mengenai hal ini akan membantu kita memahami faktor-faktor apa yang dapat menyumbang pada kedamaian di tempat-tempat dan waktu-waktu lain.

Kontras Sulawesi berharap bahwa adanya forum strategis semacam ini adalah untuk menjadi sarana dialog antar-kelompok,  dalam rangka mengembangkan suasana toleran dan pemahaman perlunya menghargai keberagaman dalam masyarakat multikultur.  Adanya upaya untuk tetap menjalin silaturahmi dan mendorong adanya transformasi pengetahuan guna menciptakan tatanan masyarakat yang toleran adalah sebuah cita-cita besar yang hendak dituju.

Pemerintah berkewajiban menjaga ruang itu. Dorongan pemerintah untuk memastikan kelompok-kelompok masyarakat untuk mengisi ruang dialogis secara berkualitas dan beradab. Dialog masih merupakan jalan terbaik untuk isu yang pelik seperti ini, di mana ada pertentangan persepsi yang demikian tajam bahkan mengenai prinsip-prinsip utama seperti intervensi Negara atas urusan agama, pembatasan kebebasan beragama dan berkepercayaan/berkeyakinan yang dapat dan tidak dapat diterima, langkah ini adalah langkah awal yang tentunya tidak mudah tapi bisa menjadi harapan bersama nantinya. []

*Peserta yang hadir dalam nongkrong bersama Jalin-Harmoni KBB antara lain: JAI Makassar, JAI Gowa, JAI Jenepontho, Patria Sulsel, Generasi Muda Konghucu, PMII, LAPAR Sulawesi Selatan, AMAN Sulawesi Selatan, SP Anging Mammiri, KontraS Sulawesi

Berita Terkait