Responsive image

Kami bukan mitos masa lalu, reruntuhan dalam hutan, atau kebun binatang. Kami adalah manusia dan kami ingin dihormati, bukan menjadi korban intoleransi dan rasisme.

Rigoberta Menchu

Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Jika seseorang berpikir bahwa perdamaian dan cinta adalah hal klise yang harus telah ditinggalkan di tahun 60an, itu adalah masalah. Perdamaian dan Cinta adalah abadi.

Jhon Lennon

Pada dasarnya kita tidak bisa memiliki kedamaian, atau kondisi yang menumbuhkan kedamaian tersebut, kecuali jika kita mengakui hak-hak asassi tiap individu, kepentingan mereka, martabat mereka, dan setuju bahwa itu adalah hal dasar yang harus diterima di seluruh dunia.

Eleanor Roosevelt

Membenarkan kekerasan, mengutip dari Kitab Suci, dan mengajarkan kebencian atas nama Tuhan.

Dream theater - in the Name of God

Konsolidasi Seluruh Anggota STP Takalar dalam peringatan Hari Bumi, 22 April 2015


Kamis, 23 April 2015 - 11:54:57 WIB
Diposting oleh : Administrator .:. Kat: Kegiatan .:. Hits: 1231 kali

Hari Bumi sudah semestinya diperingati sebagai sebuah gerakan oleh seluruh penduduk Bumi untuk peduli terhadap lingkungan hidup dan menghormati segala hak-hak atas penghidupan yang layak terutama terkait dalam pengolahan kekayaan yang dikandung oleh Bumi. Pengolahan Bumi pun ditujukan demi keberlangsungan kehidupan makhluk yang hidup di atasnya, bukan menjadi suatu olahan oleh kepentingan kelompok tertentu. Setiap Negara seyogyanya paham betul bahwa pengolahan ini semata-mata demi kesejahteraan setiap warganya.

Bumi, bagi para petani adalah lahan. Di atas lahan itulah ia menumpukkan seluruh upaya pencapaian hidup yang sejahtera. Di Lahan itu pula ia menyandarkan hak-hak perekomoniannya. Tanpa adanya tanah berarti tidak adanya keadilan atas hak-hak para petani.

Di Indonesia, Negara abai, Negara malah membiarkan begitu banyaknya konflik lahan berserakan begitu saja tanpa adanya penyelesaian yang berkeadilan. Para petani masih mengalami ketidaknyamanan dalam mengolahan lahan. Malah, para petani diperhadapkan pada sengketa disertai dengan segala bentuk kekerasan yang dilakukan oleh Negara. Mulai dari bentuk-bentuk intimidasi atau teror, penganiayaan, penembakan, penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, kriminalisasi bahkan kerap berujung pada meninggalnya sejumlah petani.

Hari Bumi, Petani Polongbangkeng Takalar kembali menyuarakan hak-haknya

Sekitar pukul 11.00 WITA, sejumlah para petani Polongbangkeng Takalar yang tergabung dalam Serikat Tani Polongbangkeng (STP) Takalar berkumpul di lapangan Saureka (dalam lahan) yang disengketakan antara STP dan PTPN XIV. Pertemuan kali ini dimaksudkan untuk memperingati hari Bumi sedunia dan sebagai ajang saling menguatkan antara anggota STP Takalar. Mereka datang dari berbagai desa, antara lain desa Timbuseng, Ko’mara, Barugayya, ParangLuara, Lassang Barat, Kampung Beru dan Towata. Mahasiswa dan lembaga pendamping petani pun melibatkan diri dalam konsolidasi tersebut. Terlihat aliansi mahasiswa Front Perjuangan Rakyat Sulawesi Selatan; para pendamping dari KontraS Sulawesi dan AGRA Sulawesi Selatan.

Dg Torro, dewan Pembina STP Takalar, membuka kegiatan dengan menyampaikan situasi saat ini di lahan dan apa yang menjadi harapan-harapan para petani STP Takalar. Dalam penyampaiannya, Dg Torro menyebutkan bahwa PTPN XIV saat ini masih tetap melakukan pengolahan lahan secara paksa. Tindakan PTPN XIV ini tidaklah memundurkan semangat juang para petani STP untuk mengklaim haknya atas lahan. Dia pun mendorong agar para petani tetap bersatu dalam perjuangan yang selama ini dilakukan oleh STP Takalar.

Asyari Mukrim (KontraS Sulawesi) dan Ismar Hamid (AGRA Sulawesi Selatan) secara bergiliran berbagi informasi mengenai makna hari bumi bagi para petani. Selain itu, juga menjelaskan apa saja yang menjadi hak-hak para petani atas Bumi (lahan) dan dampak bilamana hak-hak tersebut tidak terpenuhi.

Sesi berbagi pengalaman diawali oleh Dg. Nyaling, yang menceritakan pengalaman hidupnya hingga ia bergabung dan berjuang bersama dengan STP Takalar. Dg. Nyaling menyampaikan bahwa perjuangan STP Takalar semata-mata agar generasi mereka berikutnya tidak mengalami bentuk-bentuk kekerasan dan penindasan seperti apa yang terjadi saat ini di Polongbangkeng.

Helmi, mewakili aliansi mahasiswa Front Perjuangan Rakyat Sulawesi Selatan, menyampaikan bahwa mahasiswa akan selalu mendukung dan terlibat aktif dalam setiap gerakan yang dilakukan oleh STP Takalar.

Kegiatan konsolidasi ini kemudian dilanjutkan dengan konvoi motor dari lokasi pertemuan menuju sekretariat STP Takalar di desa Timbuseng dengan melewati desa Barugayya dan desa Ko’mara. Setiba di desa Timbuseng, para petani STP Takalar dan mahasiwa melakukan diskusi bebas seputar organsisasi STP Takalar dan gagasan-gagasan yang harus dilakukan ke depannya.

dokumentasi kegiatan dapat dilihat di SINI

Berita Terkait