Responsive image

Silahkan gunakan kebebasan anda untuk mempromosikan kebebasan kami.

Aung San Suu Kyi

Jika seseorang berpikir bahwa perdamaian dan cinta adalah hal klise yang harus telah ditinggalkan di tahun 60an, itu adalah masalah. Perdamaian dan Cinta adalah abadi.

Jhon Lennon

Tidak pernah orang-orang mengeluh tentang universalitas hak asasi manusia, juga tidak menganggap HAM sebagai pemaksaan dari Barat atau Utara. Namun, hal itu kerap dilakukan oleh para pemimpin mereka.

Kofi Annan

Membenarkan kekerasan, mengutip dari Kitab Suci, dan mengajarkan kebencian atas nama Tuhan.

Dream theater - in the Name of God

Pada dasarnya kita tidak bisa memiliki kedamaian, atau kondisi yang menumbuhkan kedamaian tersebut, kecuali jika kita mengakui hak-hak asassi tiap individu, kepentingan mereka, martabat mereka, dan setuju bahwa itu adalah hal dasar yang harus diterima di seluruh dunia.

Eleanor Roosevelt

Tolak Hukuman Mati atas Mary Jane : Pray for Her!


Jumat, 05 Juni 2015 - 15:32:35 WIB
Diposting oleh : Administrator .:. Kat: Kegiatan .:. Hits: 1077 kali

83SAM_0693.jpg

- kegiatan tanggal 27 April 2015 -

Solidaritas terhadap terpidana mati kasus narkoba asal Filipina, Mary Jane Fiesta Veloso marak bermunculan di berbagai kota. Mary Jane mendapat dukungan dari berbagai pihak karena dianggap tak layak mendapat hukuman mati oleh pemerintah Indonesia. Mary Jane oleh berbagai kalangan dipandang sebagai korban dari sindikat narkoba internasional sekaligus sebagai korban human trafficking.

Aksi solidaritas terhadap Mary Jane bermunculan, salah satunya hadir di Makassar, yang berujung pada pembubaran paksa aksi yang berpusat di Fly Over, Jalan Tol Reformasi, Makassar. KontraS Sulawesi menyesali adanya insiden pembubaran paksa tersebut dan mengutuk segala bentuk upaya pembungkangan atas kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat di muka umum.

Isu hukuman mati di Indonesia terus bergulir menyusul semakin aroganya pemerintah Indonesia dengan memaksakan eksekusi hukuman mati terhadap narapidana narkoba baik warga Indonesia maupun warga asing yang ditangkap di Indonesia. Solidaritas bermucnulan dari berbagai lembaga dan individu yang menyatakan penolakannya terhadap eksekusi mati yang masih dipraktekkan di Indonesia.

Dukungan terhadap Mary Jane juga muncul dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Indonesia yang memaparkan bukti-bukti bahwa Mary Jane adalah korban pemiskinan berdasarkan hasil pemantauannya di lapangan.

Mary Jane: Korban Human Traffiking dan Upaya Menggerakkan Nurani

Nama Mary Jane mulai menguat semenjak namanya menjadi daftar tunggu eksekusi mati narkoba oleh pemerintah Indonesia. Sosok Mary Jane diyakini bukanlah pemain inti dari peredaran narkoba yang sedang berlangsung. Ia adalah korban dari kejahatan kemanusiaan itu sendiri.

Mary Jane merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga yang menikah di usia muda yaitu 16 tahun. Dirinya berangkat bekerja ke luar negeri akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang diterimanya, hal ini memaksa Jane mengambil alih peran kepala keluarga dan minimnya pengetahuan maupun pendidikan akibat pemiskinan dan pernikahan usia anak.

Mary Jane berasal dari keluarga miskin, mata pencaharian utama keluarganya adalah pengumpul dan penjual barang bekas. Mary Jane pernah trauma akibat kekerasan seksual saat bekerja di Dubai. Trauma pada kekerasan seksual inilah yang menyebabkan kondisi traumatic baginya. Mary Jane direkrut oleh tetangga suaminya, Maria Kristian P. Sergio untuk bekerja ke Malaysia secara ilegal sebagai pekerja rumah tangga (PRT), masuk negara tersebut dengan visa turis dan tanpa dokumen kerja yang resmi.

Terakhir, berdasarkan temuan Komnas Perempuan mengungkap bahwa Mary Jane menjadi korban penipuan ketika dijadikan kurir narkoba. Adapun caranya diberi tas untuk menyimpan pakaian dan peralatan pribadinya selama di Malaysia, tanpa sepengetahuannya telah dimasukkan heroin seberat 2.6 kg.

Menolak Hukuman Mati!

KontraS Sulawesi sebelumnya telah menyatakan sikap penolakannya terhadap eksekusi human mati di Indonesia. Selain karena persoalan kemanusian yang harusnya dijunjung tinggi oleh segenap pemerintah di berbagai negara, hal ini diyakini sebagai modal negosiasi terhadap sejumlah pekerja migrant Indonnesia yang  terancam hukuman mati. Karenanya itu, KontraS Sulaweesi mendesak pemerintah Indonesia untuk membatalkan eksekusi hukuman mati dan menghapuskannya dalam hukum postif di Indonesia.

Aksi pembubran paksa terhadap solidaritas yang bermunculan terhadap upaya pembatalan eksekusi hukuman mati Mary Jane juga penting untuk medapatkan perhatian,. Hal ini menandakan bahwa telah terjadi upaya pembungkaman terhadap solidaritas kemanusiaan yang mencoba memperjaungankan niali-nilai kemanusian yang ada.

Malam Doa untuk Mary Jane

27 April 2015, sejumlah aktivis kemanusiaan berkumpul di Baruga Paralegal untuk melakukan doa bersama untuk Mary Jane. Awalnya agenda ini dilaksanakan di bawah Fly Over kota Makassar, namun tak lama di lokasi tersebut, dua anggota intel Polsekta Panakkuang membubarkan secara paksa kegiatan tersebut dengan alasan akan menarik simpatik massa lain untuk berkumpul serta alasan lain yang diyakini sangat absurd.

Di Baruga Paralegal, para aktivis tersebut menyalakan lilin, melakukan renungan bersama, sharing pengalaman dan berdoa bersama untuk Mary Jane Fiesta Velaso. Nur Aeni Gee Simen La Husae (Koordinator Aliansi HAM untuk AIDS Sulawesi Selatan) yang kerap disapa Gege menyampaikan bahwa Mary Jane bukan orang bersalah, bukan orang yang pantas untuk dihukum mati. Mary Jane adalah korban trafficking. Negara Indonesia harus ingat bahwa sekitar 277 buruh migran Indonesia sedang terancam untuk dihukum mati di Negara lain. Sementara itu, Nasrum, Wakil Koordiantor KontraS Sulawesi menyampaikan bahwa hukuman mati adalah simbol peradaban masa lalu, yang tidak layak untuk dipertahankan di masa ini. Di beberapa kasus, sejumlah yang telah dieksekusi mati ternyata ketika kasusnya dibongkar kembali, yang bersangkutan tidak bersalah. Kekhawatiran yang muncul adalah hukuman mati nantinya dengan mudah dilakukan oleh Indonesia sebagai ajang unjuk kekuasaan dan mengancam penegakan keadilan serta terkikisnya komitmen penegakan HAM di Indonesia.

Malam solidaritas ini ditutup dengan doa universal pada pukul 23.30 WITA dengan komitmen untuk terus mendesak pemerintahan Joko Widodo untuk berubah pikiran, menghentikan eksekusi mati terhadap Mary Jane dan menghapus hukuman mati di Indonesia.


 

Berita Terkait