Responsive image

Kami bukan mitos masa lalu, reruntuhan dalam hutan, atau kebun binatang. Kami adalah manusia dan kami ingin dihormati, bukan menjadi korban intoleransi dan rasisme.

Rigoberta Menchu

Tidak pernah orang-orang mengeluh tentang universalitas hak asasi manusia, juga tidak menganggap HAM sebagai pemaksaan dari Barat atau Utara. Namun, hal itu kerap dilakukan oleh para pemimpin mereka.

Kofi Annan

Jika seseorang berpikir bahwa perdamaian dan cinta adalah hal klise yang harus telah ditinggalkan di tahun 60an, itu adalah masalah. Perdamaian dan Cinta adalah abadi.

Jhon Lennon

Hak Gay (LGBTIQ) adalah hak asasi manusia.

Hillary Clinton

Membenarkan kekerasan, mengutip dari Kitab Suci, dan mengajarkan kebencian atas nama Tuhan.

Dream theater - in the Name of God

TETAP TENANG DAN BERSOLIDARITAS UNTUK PAPUA


Jumat, 17 Juli 2015 - 19:24:59 WIB
Diposting oleh : Administrator .:. Kat: Pernyataan Sikap .:. Hits: 1143 kali

Sikap PapuaItuKita terkait insiden Tolikara, 17 Juli 2015 

  1. PapuaItuKita menyayangkan terjadinya insiden di Tolikara. Peristiwa ini tidak dapat dilihat pada kejadian pada hari ini saja.  Berbagai upaya/usaha utk mengarahkan konflik di Papua menjadi horizontal dengan isu keagamaan bukanlah kali pertama. Namun karena kuatnya kerukunan dan kecintaan hidup bersama orang Papua dengan warga lain yang berbeda, baik agama maupun suku bangsa, mestilah lebih dulu diingat sebagai nilai yang dimiliki oleh masyarakat Papua.
  2. Sebelum peristiwa hari ini, berbagai peristiwa kekerasan di Papua tak berhenti setiap minggu yang mengorbankan warga sipil, dan memenjarakan setidaknya 500 orang sepanjang Mei-Juni 2015. Namun, berita insiden Tolikara yang menyebar begitu cepat, dengan narasumber sangat terbatas, telah membentuk opini sedemikian rupa yang dapat menyudutkan warga Papua. 
  3. Peristiwa di Tolikara terjadi karena kelalaian aparat yang tidak mampu menangani persoalan sosial yang terjadi disana. Ini juga membuktikan bahwa pendekatan aparat di Papua melulu dengan kekerasan dan senjata. Metode dialogis justru tak pernah dijadikan pendekatan utama.
  4. Meminta masyarakat, pimpinan agama, wakil-wakil masyarakat adat, untuk mengambil peran maksimal, menenangkan warga dan memberi penjelasan khususnya kepada media-media arus besar nasional terkait dengan fakta peristiwa yang sangat kita harapkan tidak menyulut konflik lebih luas.
  5. Menyerukan kepada pimpinan Polri agar tidak menggunakan cara kekerasan dalam menangani masalah ini, upaya dialogis adalah cara tepat menyelesaikan persoalan antar masyarakat.
  6. Kepada media untuk memprioritaskan narasumber yang kredibel dan beragam, serta menyusun berita yang kiranya dapat membantu tokoh agama dan adat untuk menenangkan warga.
  7. Kepada Pemerintah Daerah agar mengusut akar masalah dan mengambil langkah-langkah pencegahan ke depan dengan mediasi dan rehabilitasi bagi semua pihak yang dirugikan.
  8. Sebagai catatan yang akan kami kembangkan lebih lanjut, termasuk kaitannya dengan penyebaran sistematis dan cepat Edaran dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI) di media sosial

Terdapat fakta keanehan peristiwa /pasca peristiwa di Tolikara Papua:

  • Surat yang menggunakan Kop Surat/logo GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) pada tanggal 11 Juli 2015 yang ditujukan kepada Umat Muslim Se Kabupaten Tolikara, ditembuskan kepada DPRD Tolikara, Bupati Kab Tolikara, Polres Tolikara, semestinya dapat segera di atasi dari awal. Namun di sayangkan, pihak Pemerintah dan kepolisian tidak melakukan upaya preventif (pencegahan dini) dengan memfasilitasi dialog antar pihak. Waktu antara selama 6 hari dibiarkan menjadi api dalam sekam.
  • Pasca gagalnya mediasi terjadi keributan antar warga, sangat cepat informasi beredar, kronologis berdasarkan versi masing-masing-masing pihak dan dibiarkan oleh Pemerintah dan aparat seolah membiarkan distorsi informasi terus terjadi dan terus akan memperparah situasi konflik. Dokumen surat yang menggunakan logo GIDI sangat cepat beredar, khususnya penyebaran melalui medsos. Kita tahu bahwa surat tersebut masih perlu pengujian atas keaslian dan materinya. Pertanyaannya adalah bagaimana ini bisa terjadi? mengingat lokasi jarak TKP di Tolikara Papua dan keterbatasan akses? 
  • Sebuah surat yang mengatasnamakan organisasi agama tertentu di Papua namun belum terklarifikasi keaslian sumber dan materinya mengingat contoh rekayasa dokumen seperti ini terjadi pada wilayah konflik dengan tujuan menyulut konflik yang lebih luas antar warga. 

Peristiwa ini menjadi catatan bahwa baru pertama kali isu konflik politik di Papua bergeser ke isu agama terjadi meskipun telah berulang kali di coba namun gagal.

Jakarta, 17 Juli 2015

PapuaItuKita

Narahubung: Zely Ariane 08158126673

Berita Terkait