Responsive image

Tidak pernah orang-orang mengeluh tentang universalitas hak asasi manusia, juga tidak menganggap HAM sebagai pemaksaan dari Barat atau Utara. Namun, hal itu kerap dilakukan oleh para pemimpin mereka.

Kofi Annan

Hak Gay (LGBTIQ) adalah hak asasi manusia.

Hillary Clinton

Pada dasarnya kita tidak bisa memiliki kedamaian, atau kondisi yang menumbuhkan kedamaian tersebut, kecuali jika kita mengakui hak-hak asassi tiap individu, kepentingan mereka, martabat mereka, dan setuju bahwa itu adalah hal dasar yang harus diterima di seluruh dunia.

Eleanor Roosevelt

Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Membenarkan kekerasan, mengutip dari Kitab Suci, dan mengajarkan kebencian atas nama Tuhan.

Dream theater - in the Name of God

Filep Karma Dibebaskan; Penegakan HAM di Papua Masih Nihil


Jumat, 20 November 2015 - 12:53:03 WIB
Diposting oleh : Administrator .:. Kat: Siaran Pers .:. Hits: 1396 kali

KontraS Sulawesi menyambut baik atas pembebasan Filep Karma pada 19 November 2015 lalu. Walaupun demikian, Kami mengecam atas tindakan pembungkaman hak atas kebebasan berekspresi terhadap Filep Karma selama hampir 11 tahun sejak penangkapan pada 1 Desember 2004. Kebebasan berekspresi dalam mengeluar pendapat telah dijamin dalam UUD 1945 pasal 28, sehingga sangat tidak wajar jika terjadi pemidanaan atas kebebasan tersebut.

Filep Karma adalah salah satu dari sejumlah tahanan politik di Papua yang ditahan atas aktivitasnya dalam menyuarakan kondisi ketidakadilan dan sejumlah kekerasan yang terjadi di Papua serta menuntut penuntasannya oleh pemerintah Indonesia. Berdasarkan data organisasi Tapol dan Papuan Behind Bars, terdapat 46 tahanan politik lainnya masih ditahan.

Hingga pada pembebasan Filep Karma, kondisi ketidakadilan dan kekerasan yang dialami oleh warga Papua tetap saja belum menjadi prioritas pemerintah Indonesia sebagai bentuk upaya penegakan HAM. Sejumlah persoalan kekerasan terus terjadi di Papua, jaminan atas penghidupan yang layak dan pemenuhan rasa keamanan belum juga dapat dinikmati sepenuhnya. Bahkan suara-suara tuntutan atas hak-haknnya kerap direspon dengan penangkapan, penahanan dan berbagai tindak kekerasan lainnya. Di akhir Agustus 2015, terjadi penembakan berujung kematian terhadap warga di Mimika. Selain itu, penangkapan dan penahanan terhadap sekitar 40 anggota ULMWP (United Liberation Movement of West Papua – Serikat Gerakan Pembebasan Papua Barat) di Bulan Juni lalu. Menyusul sejumlah kasus kekerasan lain di tahun-tahun sebelumnya, semisal pembunuhan terhadap Yawan Wayeni pada Agustus 2009.

Bagi kami, pembebasan Filep Karma adalah momentum untuk kembali menegaskan kepada pemerintahan Jokowi untuk :

  1. Pemenuhan, jaminan dan perlidungan atas hak-hak masyarakat di Papua sebagai agenda prioritas;
  2. Menghentikan segala bentuk tindak kekerasan terhadap masyarakat Papua oleh aparat keamanan dan merespon dengan pendekatan berkeadilan dan penghormatan HAM atas segala tindak kekerasan oleh aparat yang umumnya dalam bentuk intimidasi, penganiayaan, penyiksaan, penangkapan dan penahanan sewenang-wenang;
  3. Melaksanakan dialog terbuka antara masyarakat Papua dan pemerintahan pusat sebagai upaya untuk penyelesaian berbagai konflik yang terjadi di Papua

Makassar, 20 November 2015

Badan Pekerja

 

Asyari Mukrim, S.IP., MA
Kabiro Penelitian dan Pengembangan

 

Lihat : Data Tahanan Politik Papua

Berita Terkait