Responsive image

Setiap pemikiran, setiap kata, dan setiap tindakan yang menambah hal positif dan sehat adalah bentuk kontribusi untuk perdamaian. Seluruh dan setiap orang dapat member kontribusinya. Mari kita bergandengan tangan untuk menciptakan perdamaian dunia dimana kita dapat tidur dalam kedamaian dan bangun dalam kebahagiaan.

Aung San Suu Kyi

Jika seseorang berpikir bahwa perdamaian dan cinta adalah hal klise yang harus telah ditinggalkan di tahun 60an, itu adalah masalah. Perdamaian dan Cinta adalah abadi.

Jhon Lennon

Hak Gay (LGBTIQ) adalah hak asasi manusia.

Hillary Clinton

Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Tidak pernah orang-orang mengeluh tentang universalitas hak asasi manusia, juga tidak menganggap HAM sebagai pemaksaan dari Barat atau Utara. Namun, hal itu kerap dilakukan oleh para pemimpin mereka.

Kofi Annan

Reuni Keluarga Korban Konflik Timor Leste


Senin, 16 Mei 2016 - 13:30:49 WIB
Diposting oleh : Administrator .:. Kat: Siaran Pers .:. Hits: 1657 kali

23IMG-20160513-WA0010.jpg

Denpasar dan Dili, 13 – 26 Mei 2016

 

Sepanjang periode tahun 1970 hingga 1999, saat Timor Leste menjadi bagian dari Republik Indonesia, ribuan anak Timor Leste dibawa secara paksa ke Indonesia. Berdasarkan temuan Komisi Kebenaran Indonesia-Timor Leste, terdapat 4 (empat) ribu anak terpisah dari keluarganya (juga disebut hilang) akibat konflik di era Orde Baru tersebut. Usia anak yang hilang antara 5-15 tahun. Mereka dibawa dengan berbagai cara dan moda transportasi. Situasi konflik yang terus berkecamuk menjadikan situasi tidak menguntungkan bagi mereka. Mereka terpisahkan dari keluarga dan sanak saudaranya. Hingga kini, keberadaan mereka masih banyak yang menjadi misteri bagi keluarga yang ditinggalkan. Beberapa bahkan telah dianggap meninggal dan dibuatkan pemakamannya.

Jelang 17 tahun pasca jajak pendapat yang dilakukan, dimana Timor Leste akhirnya menyatakan memisahkan diri dari Indonesia. Sebuah persoalan terus membayangi dan belum sepenuhnya terselesaikan. Ribuan anak dipisahkan ketika konflik. Ada yang kehidupannya berangsur membaik tetapi tidak sedikit pula yang yang telantar dan terus mengalami tindakan kekerasan baik secara kultural maupun struktural. Pemerintah Indonesia dan Timor Leste dihimbau untuk segera mengambil tindakan konkret, yaitu mencari anak-anak Timor yang hilang dan tersebar di Indonesia. Pemerintah kedua negara juga harus memulihkan hak-hak mereka yang dipisahkan, sekaligus mendukung upaya untuk mempertemukan orang-orang dipisahkan itu dengan keluarganya di Timor Leste.

Dorongan dan upaya untuk menyelesakan kasus kekerasan masa lalu tersebut juga akan terus dilakukan. Salah satu bentuk dorongannya ialah pembentukan komisi bersama yakni Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi atau Comissao de Acolhimento, Verdado e Reconciliacao de Timor Leste (CAVR). CAVR adalah lembaga konstitusional independen yang dipimpin oleh 7 (tujuh) Komisaris Timor Timur dan diberi mandat oleh Peraturan UNTAET 2001/10 untuk melakukan pencarian kebenaran selama periode 1974-1999, memfasilitasi rekonsiliasi komunitas untuk kejahatan yang tidak terlalu berat, dan melaporkan hasil pekerjaan dan penemuannya serta membuat rekomendasinya. Semua laporan komisi tersebut dipublikasikan dalam sebuah buku berseri berjudul Chega!.

Dalam laporannya, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR) Timor Leste dan Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) Indonesia dan Timor Leste telah merekomendasikan penelitian  untuk  menemukan anak-anak  yang masih berada di Indonesia dan mempertemukan mereka kembali dengan keluarga di Timor Leste. Pada bulan Oktober 2011, pemerintah Indonesia telah menerbitkan Perpres yang menjadi mandat untuk implementasi rekomendasi KKP. Meskipun hingga kini belum ada langkah konkrit Pemerintah kedua negara untuk pencarian anak-anak yang hilang selama masa konflik di Timor Timur, 1975-1999.

Menindaklanjuti rekomendasi komisi tersebut, AJAR  (Asia Justice and Rights) bersama Komnas HAM Indonesia, Provedoria Dos Direitos Humanos E Justica (PDHJ) atau Komnas HAM Timor Leste serta organisasi sipil Kontras Sulawesi, IKOHI, dan Yayasan HAK Timor Leste menyepakati untuk bekerjasama menindaklanjuti rekomendasi KKP. Salah satu tindak lanjutnya ialah upaya menyatu dalam proses pendataan anak-anak Timor Leste di Indonesia yang berorientasi pada fasilitasi pertemuan kembali antara anak-anak dan keluarga asalanya di Timor Leste.

Pada tanggal 13-26 Mei 2016, bertempat di Denpasar, Bali dan Dili, Timor Leste akan dilaksanakan pertemuan kembali antara anak-anak dan keluarganya di Timor Leste. Kontras Sulawesi sebagai salah satu organisasi masyarakat sipil turut mengambil bagian bersama 11 orang anak hilang dan terpisahkan yang telah berhasil didata di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat untuk dipertemukan kembali bersama keluarganya yang telah berpisah selama puluhan tahun. Salah satu daintara mereka bahkan telah berpisah sejak dibawa pada tahun 1974 dan beberapa diantaranya bahkan masih berusia balita ketika dipisahkan dari keluarganya, tercabut dari budaya asalnya. Reuni ini adalah reuni tahapan kedua setelah sebelumnya telah dilaksanakan pada tanggal 18-23 Mei 2015 di Dili.

Upaya bersama antara lembaga negara dan organisasi masyarakat sipil akan terus didorong secara bersama-sama dalam rangka menuntut kewajiban negara untuk bertanggung jawab atas kekerasan masa lalu yang terjadi dan mencari inisiatif bersama korban sebagai bagian dari upaya pemulihan hak-hak anak hilang dan terpisah dari keluarganya sepanjang konflik Timor Leste berlangsung.

Kontras Sulawesi juga akan terus melakukan pendataan, penelitian dan publikasi terkait rekomendasi penemuan dan fasilitasi anak hilang dan terpisah dari keluarganya di Timor Leste. Dukungan masyarakat luas dan negara menjadi penting guna memastikan keberlangsungan proses pemulihan hak-hak korban dan memastikan ketidakberulang konflik dan kekerasan atas hak asasi manusia.

 

Makassar, 13 Mei 2016

KontraS Sulawesi

Badan Pekerja

 


Asyari Mukrim

Kabiro Litbang

Berita Terkait