Harapan KontraS Sulawesi untuk Kapolda Sulsel yang Baru

Menurut Nasrum, pergantian pucuk pimpinan Polda Sulsel adalah sesuatu yang lazim terjadi di institusi kepolisian. Pergantian terjadi kadang dilatarbelakangi karena adanya promosi (berprestasi). Kadang juga karena ketidakmampuan menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi di wilayah hukumnya.
92nasrum

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM – Wakil Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sulawesi Nasrum SH berharap pergantian Kapolda Sulawesi Selatan dari Irjenpol Anton Setiadji ke Irjenpol Pudji Hartanto Iskandar membawa perubahan lebih baik bagi institusi kepolisian sebagai polisi sipil.

Mantan Gubernur Akademi Kepolisian (Akpol) RI tersebut juga diharapkan mampu menyelesaikan sejumlah kasus yang menyita perhatian publik namun tak jelas penanganannya di Polda Sulsel.

“Berdasarkan data KontraS Sulawesi, beberapa kasus dimaksud antara lain pertama, penangkapan mahasiswa NTB yang diduga terlibat terorisme oleh Densus 88 Anti Teror,” tulis Nasrum melalui rilisnya ke tribun-timur.com, Jumat (4/9/2015).

Kedua, insiden penyerangan tiga anggota Polres Gowa di Samata, Kabupaten Gowa, 2 Juli 2015 lalu. Tiga polisi itu adalah Brigpol Irfan Udhien (30), Bripda Usman (31) dan Brigpol Mus Mulyadi (29). Seorang di antaranya yakni Irfan meninggal di tempat.

Kedua, kasus pembunuhan anggota Denma Brigif 3 Kostrad 433 Kariango Pratu Rahman Paturahman yang tewas ditikam di Kabupaten Gowa pada 12 Juli 2015 lalu.

Ketiga adalah kasus bentrokan anggota TNI dan polisi di Sulbar pada 30 Agustus 2015 lalu. Pada insiden ini, Prada Yuliadi tewas akibat terkena peluru di bagian perut.

Menurut Nasrum, pergantian pucuk pimpinan Polda Sulsel adalah sesuatu yang lazim terjadi di institusi kepolisian. Pergantian terjadi kadang dilatarbelakangi karena adanya promosi (berprestasi). Kadang juga karena ketidakmampuan menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi di wilayah hukumnya.

KontraS Sulawesi mengapresiasi pergantian pucuk pimpinan Polda Sulsel. Berdasarkan pemantauan dan pengamatan KontraS Sulawesi selama ini, Kapolda Sulselbar selama dijabat Irjenpol Anton Setiadji tidak banyak terobosan yang dilakukan.

“Bahkan ada beberapa kasus justru mandek penyelesaiannya. Termasuk kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian di jajaran Kepolisian Daerah Sulselbar,” tegas pria yang juga berprofesi sebagai advokat ini.

Tugas lain yang menanti Irjen Pudji adalah kasus yang menjadi perhatian masyarakat Kota Makassar yakni kasus peluru nyasar dan semakin meningkatnya tindakan kriminal seperti begal dan perampokan beberapa mini market.

KontraS Sulawesi juga mencatat berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan selama ini, tingkat pengguna narkoba bagi aparat kepolisian di wilayah Sulawesi Selatan dan Barat semakin tinggi. Hal ini juga menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Kapolda Sulsel yang baru agar menindak secara tegas oknum aparat kepolisian yang terlibat baik sebagai pengguna maupun sebagai pengedar narkoba.

Tindakan secara tegas dimaksud yakni melakukan pemecatan secara tidak hormat bagi oknum aparat kepolisian sebagai pengguna dan pengedar narkoba, sehingga memberikan efek jera kepada oknum aparat yang terlibat dan menjadi ‘warning’ bagi aparat lainnya.

“Semoga Kapolda yang baru mampu membawa angin perubahan dalam penegakan hukum dengan lebih mengutamakan peran Kepolisian Daerah Sulselbar sebagai polisi sipil yang lebih profesional, akuntabel, dan transparan dalam penanganan kasus,” pinta Nasrum.

KontraS Sulawesi juga berharap kepada Kapolda Sulsel yang baru mampu membangun ruang komunikasi dengan masyarakat sipil dan tidak berpihak pada kepentingan modal. (*/tribun-timur.com)

Penulis: Jumadi Mappanganro
Editor: Jumadi Mappanganro
Sumber: makassar.tribunnews.com

Leave a Replay

Artikel Terbaru

Follow Us

Daftar untuk Berita Terbaru