Kebenaran yang Dipaksa Hilang dalam Sunyi

Pulangkan Mereka adalah sebuah pintu yang telah dibuka oleh teman-teman dari HIMAHI dan KBJ agar kita bisa masuk melihat, mengetahui, dan tidak lupa bahwa di beberapa negara, khususnya Indonesia, dulunya, kebebasan dan kebenaran harus ditukar dengan harga yang tak bisa dibeli.
Pulangkan-Mereka_30-Agustus-2016_Revius19

“Pulangkan Mereka!” Memperingati Hari Anti Penghilangan Paksa, 30 Agustus 2016

Praktik penghilangan orang secara paksa tercatat pernah terjadi di beberapa negara. Antara lain Chile pada masa pemerintahan diktator Jendral Pinochet, Argentina pada kekuasaan junta militer periode 1976- 1983. Filipina pasca Presiden Ferdinand Marcos mengumumkan darurat militer pada 1972. Dan beberapa negara lainnya termasuk Indonesia.

Di Indonesia sendiri ratusan bahkan ribuan praktik penghilangan paksa terjadi pada pada periode tahun 1965- 1998 pada masa rezim Orde Baru (Orba). Namun baru peristiwa penghilangan paksa periode 1997-1998 yang diselidiki oleh Komnas HAM. Komnas HAM menyimpulkan bahwa menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 1997 dan sidang umum Majelis Permusyawatan Rakyat (MPR) tahun 1998 ada kemungkinan bahwa negara melalui aktor keamanan dalam hal ini militer, intelijen, dan polisi melakukan tindak penculikan dan penghilangan secara paksa kepada para aktivis pro-demokrasi.

Jumlah aktivis yang diculik saat itu mencapai 23 orang. Menurut catatan, 1 aktivis, yakni Gilang ditemukan meninggal dan 9 orang dari daftar tersebut di antaranya Dosmond Mahesa, Prius Lutrilanang, Haryanto Taslam, Faisol Reza, Raharja Waluya Jati, Mugiyanto, Aan Rusdiyanto, Nezar Patria dan Andi Arief saat itu telah dikembalikan ke keluarganya.

Sedangkan 13 orang lainnya yaitu Suyat, Sonny, Yani Afri, Dedy Hamdun, Noval Alkatiri, Ismail, Herman Hendrawan, Petrus Bima Anugrah, Wiji Thukul, Ucok Munandar Siahaan, Hendra Hambali, Yadin Muhidin dan Abdul Naser dinyatakan hilang. Waktu berlalu namun sampai saat ini pihak keluarga korban juga banyak penggiat-penggiat HAM yang berjuang baik melalui aksi ataupun advokasi untuk menuntut kebenaran dan kejelasan para aktivis-aktivis yang hilang.

Tepat tanggal 30 Agustus 2016 yang juga diperingati sebagai Hari Anti Penghilangan Paksa Sedunia. Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (Himahi) yang bekerjasama dan Kedai Buku Jenny berkolaborasi dengan Kontras juga IKOHI melakukan kegiatan yang bertajuk Pulangkan Mereka, puncak peringatannya di Taman SOSPOL Universitas Hasanuddin, sebelumnya telah melakukan rangkaian kegiatan aksi, diskusi dan bedah film pada 28 hingga 29 Agustus 2016.

Puncak kegiatan Pulangkan Mereka yang diadakan di Taman Sospol Universitas Hasanuddin.

Dalam kegiatan puncak kali ini kegiatan diisi dengan pembacaan puisi dan kesaksian para keluarga korban yang jujur membuat saya merinding. Lalu dengan mengusung konsep kampanye kreatif dalam kegiatan ini ditampilkan juga pertunjukan musik, poster, infografis tentang jumlah kasus, wilayah terjadi, data korban dan sejarah kelam penghilangan paksa baik skala Internasional maupun nasional. Menjadi inti acara, diskusi juga diadakan pada kegiatan ini. Diskusi ini menghadirkan narasumber yaitu David Fau dari Kontras Sulawesi yang memaparkan tentang gambaran sejarah praktek tidak manusiawi ini di Indonesia. Juga, Sawing Baharuddin yang menyampaikan alasan pentingnya pemerintah untuk segera meratifikasi Konvensi Internasional Anti Penghilangan Paksa dalam usaha memperkuat jaminan perlindungan warga negara dari praktik-praktik kejahatan penghilangan paksa di Indonesia.

Diskusi Publik difasilitatori oleh Sawing Baharuddin dari Himahi Unhas dan David Fau dari Kontras Sulawesi.

Zulkhair Burhan dari Kedai Buku Jenny saat membacakan puisinya berjudul “Pulangkan Mereka”.

Minorbebas yang tampil bersama teater KetJiL di Pulangkan Mereka, 30 Agustus 2016.

Aksi membuat mural selama kegiatan Pulangkan Mereka sedang berlangsung.

Poster dari NobodyCorp bertema penghilangan paksa juga ditampilkan di Pulangkan Mereka.

Kampanye ini sangat menarik, ada banyak hal yang saya ketahui melalui poster dari Nobodycorp, pemutaran film, infografis dan sejumlah kronologi yang disajikan secara kreatif dan sederhana. Sekonyong- konyong saya teringat sebuah dialog dalam novel O karangan Eka Kurniawan:

“Percuma kau punya ladang atau sawah, cepat atau lambat negara akan merampasnya darimu. Juga rumah. Juga tanah. Bahkan negara bisa mengambil paksa suamimu kapan pun meraka mau. Hanya isi kepalamu yang tak akan bisa mereka rampas. Belajarlah yang baik, Nak.”

Itu adalah nasihat ibu ke anaknya, setelah suaminya dibunuh dan ditemukan di sungai. Mati. Sejumlah luka tembak menembus tubuhnya setelah ia mempertahankan tanahnya. Tanah leluhurnya yang selama ini menghidupinya. Persis seperti orang-orang yang dihilangkan paksa karena mempertahankan isi kepalanya tentang kebebasan dan kebenaran. isi kepala adalah modal terakhir kita untuk melawan setelah semuanya dirampas. isi kepala tak bisa di hilangkan dengan penyiksaan, ia tidak merasakan sakit, juga tak akan hilang walaupun jasad mu sudah dihilangkan. Layaknya benih, ia tumbuh di kepala lain dan berlipat ganda.

Papan kronik kasus penculikan tahun 1997-1998 yang ditampilkan di Pulangkan Mereka.

Infografis penghilangan paksa tahun 1997- 2015 yang ditampilkan di Pulangkan Mereka.

Zen RS baru-baru ini menulis, kalau ia berutang pada Widji Thukul, utang yang entah bisa dibayar atau tidak. Utang keberanian. Saya sepakat. Setidak-tidaknya hari ini kita bisa berumur panjang jika kita bersuara sumbang. Kebebasan yang kita rasakan hari ini adalah berkat mereka juga. Mereka yang dihilangkan paksa.

Pulangkan Mereka yang kembali mengingatkan momen para aktivis yang diculik selama tahun 1998.

Pulangkan Mereka adalah sebuah pintu yang telah dibuka oleh teman-teman dari HIMAHI dan KBJ agar kita bisa masuk melihat, mengetahui, dan tidak lupa bahwa di beberapa negara, khususnya Indonesia, dulunya, kebebasan dan kebenaran harus ditukar dengan harga yang tak bisa dibeli. Itu terbukti dari beberapa aktivis yang memperjuangkan demokrasi belum kembali dan pelakunya belum diadili, bahkan masih bisa menari. They’re dancing with the missing, they’re dancing with the dead.

Foto: Aswan Pratama
Publisher: revi.us

Leave a Replay

Artikel Terbaru

Follow Us

Daftar untuk Berita Terbaru