Polisi Menangkap dan Memukul Petani Bohotokong di Kebunnya

Peristiwa penangkapan, teror dan intimidasi oleh kepolisian Resort Banggai sejak tahun 1991 hingga saat ini terus berlangsung. Semuanya dilatarbelakangi penguasaan petani atas lahan eks onderneming peninggalan Hindia Belanda sejak tahun 1980-an dan telah ditanami pohon kelapa dan kakao. Penguasaan lahan tersebut oleh petani di desa Bohotokong didasarkan pada amanat Keppres No 32 tahun 1979, Permendagri No 3 tahun 1979 dan UUPA 5/1960
default-non-image-post

Petani Reformasi Bohotokong (PEROBOH), Kab. Banggai

Sore ini, sekitar pukul 16.00 wita salah seorang petani di desa Bohotokong, kecamatan Bunta, atas nama Hima Ali kembali di tangkap oleh pihak kepolisian resort kabupaten Banggai, provinsi Sulawesi Tengah. Penangkapan dilakukan di jalan saat pak Hima Ali hendak balik ke rumah dari kebunnya. Menurut Eko, anak pak Hima Ali yang pada saat itu sedang bersamanya, ” ada tiga (3) orang polisi yang mengenakan pakaian preman yang melakukan penangkapan dan saat itu juga mereka memukuli papa saya”.

Mendengar informasi penangkapan itu, seorang petani Bohotokong langsung mengkonfirmasi berita itu pada Kepala Polisi Sektor Bunta (Veki Waloni), menurut beliau tidak mengetahui adanya penangkapan. Selanjutnya petani mencoba lagi menghubungi Kepala Kepolisian Resort Banggai melalui via handphone namun petani tidak juga memperoleh jawaban. Saat berita itu dikonfirmasi dengan kepala desa Bohotokong, menurut kepala desa tidak ada surat pemberitahuan penangkapan yang diterima dari kepolisian sektor Bunta ataupun dari resort Banggai.

Hari ini Hima Ali ditangkap untuk ke-3 kalinya setelah sebelumnya pernah ditangkap dan ditahan oleh polres banggai dengan tuduhan yang sama yakni pencurian pada tahun 2005 & 2011 yang kemudian Hima Ali dan petani Bohotokong lainnya yang turut ditahan saat itu memenangkan Perkaranya melalui Putusan Pengadilan Negeri luwuk dengan Nomor putusan No.936k/pid/2012. Ada apa dengan Polres bangaai???

Dalam kurun waktu 3 bulan ini, telah dua orang petani Bohotokong ditangkap atas tuduhan pencurian di atas tanah mereka sendiri. Sebelumnya, pada November 2013 pihak Kepolisian Resort Banggai juga menangkap salah seorang petani desa Bohotokong bernama Yamin Musa dengan tuduhan tindak pidana pencurian dan penipuandan rencananya sidangnya akan digelar di pengadilan negeri Luwuk, kabupaten Banggai pada tggl 20 januari 2014 yang akan didampingi oleh Tim Kuasa Hukum Petani Bohotokong

Peristiwa penangkapan, teror dan intimidasi oleh kepolisian Resort Banggai sejak tahun 1991 hingga saat ini terus berlangsung. Semuanya dilatarbelakangi penguasaan petani atas lahan eks onderneming peninggalan Hindia Belanda sejak tahun 1980-an dan telah ditanami pohon kelapa dan kakao. Namun Badan Pertanahan Nasional Sulawesi Tengah menerbitkan HGU kepada Teo Nayoan pemilik PT.Saritama Abadi dan karyawannya. Padahal penguasaan lahan tersebut oleh petani di desa Bohotokong didasarkan pada amanat Keppres No 32 tahun 1979, Permendagri No 3 tahun 1979 dan UUPA 5/1960 yang mana menyatakan secara tegas bahwa berakhirnya Hak Guna Usaha tanah asal konversi bekas hak barat serta tanah- tanah yang telah dikuasai oleh rakyat peruntukannya diprioritaskan kepada rakyat yang mendudukinya.

Sehingga sangat kuat diduga ada indikasi “konspirasi” antara pihak Kepolisian dan pihak pengusaha dalam kasus ini. Sebab petani sudah memenangkan perkara pidana ditingkat kasasi Melalui keputusan Mahkamah Agung dengan Nomor putusan : No.936k/pid/2012 dan putusan perkara perdata tingkat kasasi no.944k/pdt/2009.

Oleh: Nur Tahumil (Direktur LPS-HAM Sulawesi Tengah)

Leave a Replay

Artikel Terbaru

Follow Us

Daftar untuk Berita Terbaru