Solidaritas Peduli Seko Tolak Pembangunan PLTA di Luwu Utara, Ini Alasannya

Unjuk rasa ini sebagai bentuk penolakan pembangunan PLTA oleh PT Seko Power Prima di Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara.
Solidaritas peduli Seko yang tergabung dari beberapa lembaga dan organisasi mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di bawa Flyover, Sabtu (08/05/2017) Unjuk rasa ini sebagai bentuk penolakan pembangunan PLTA oleh PT Seko Power Prima di Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara.
Solidaritas peduli Seko yang tergabung dari beberapa lembaga dan organisasi mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di bawa Flyover, Sabtu (08/05/2017) Unjuk rasa ini sebagai bentuk penolakan pembangunan PLTA oleh PT Seko Power Prima di Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara.

TRIBUN- TIMUR.COM, MAKASSAR — Solidaritas peduli Seko yang tergabung dari beberapa lembaga dan organisasi mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di bawa Flyover, Sabtu (08/05/2017)

Unjuk rasa ini sebagai bentuk penolakan pembangunan PLTA oleh PT Seko Power Prima di Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara.

Pembangunan PLTA dengan kapasitas 480 MW sesuai tertuang di dalam dokumen RUPTL, dinilai menjadi bencana bagi ribuan jiwa masyarakat di daerah tersebut.

Pasalnya, sebagian besar masyarakat di daerah itu selama ini menggantungkan hidupnya dari hasil penggelolaan Sumber Daya Alam.

Jadi bilamana pembangunan itu dilaksanakan, maka masyarakat setempat bakal kehilangan sumber pangan mereka.

Pantauan Tribun, dalam aksinya diwarnai orasi secara bergantian. Peserta aksi juga membawa spanduk yang bertuliskan tuntutan mereka.

Peserta aksi juga menggelar teaterikal sebagai gambaran tindak semena yang dilakukan pemerintah , aparat Kepolisian dan pihak perusahan tersebut.

Dalalm orasinya, sepanjang 2016-2017 masyarakat adat Seko yang berjuang mempertahankan hak atas SDA kerap mendapat tindakan refresif dari aparat Kepolisian.

Sebanyak 13 orang masyarakat dikriminalisasi dan pada Maret, mereka telah dijatuhkan vonis oleh PN Masamba dengan tuduhan pengrusakan.

Padahal mereka melakukan perlawanan untuk mempertahankan haknya sebagai sumber penghidupanya.

Tidak hanya itu, tindakan kekerasan yang dilakukan aparat Kepolisian juga menimpa enam orang perempuan sebulan yang lalu.

Adapun peserta aksi merupakan gabungan dari beberapa lembaga dan organisasi kemahasiswan. Diantaranya Walhi Sulsel, KPA Sulsel, Solidaritas Perempuan Angin Mamiri, PP Man.

LBH Makassar, Lapar Sulsel, Kontras Sulawesi, Jaringan Gusdurian Makassar, PMII UIN Cabang Makassar, Pemilar, Pembebasan, LPM UNIFA, HPMS, IPMIL, KOMUNAl, dan HPMS. (*)

Penulis: Hasan Basri
Editor: Suryana Anas
Sumber: makassar.tribunnews.com

Leave a Replay

Artikel Terbaru

Follow Us

Daftar untuk Berita Terbaru